Senin, 11 Mei 2015

VARIASI BAHASA



VARIASI BAHASA
Ø  Pengertian Variasi Bahasa
Menurut Chaer (2010:62) variasi bahasa adalah keragaman bahasa yang disebabkan oleh adanya kegiatan interaksi sosial yang dilakukan oleh masyarakat atau kelompok yang sangat beragam dan dikarenakan oleh para penuturnya yang tidak homogen.
Menurut Allan Bell (dalam Coupland dan Adam, 1997:240) variasi bahasa adalah salah satu aspek yang paling menarik dalam sosiolinguistik. Prinsip dasar dari variasi bahasa ini adalah penutur tidak selalu berbicara dalam cara yang sama untuk semua peristiwa atau kejadian. Ini berarti penutur memiliki alternatif atau piilihan berbicara dengan cara yang berbeda dalam situasi yang berbeda. Cara berbicara yang berbeda ini dapat menimbulkan maksa sosial yang berbeda pula. Jadi, berdasarkan pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa variasi bahasa adalah sejenis ragam bahasa  yang pemakaiannya disesuaikan dengan fungsi dan situasinya, tanpa mengabaikan kaidah-kaidah pokok yang berlaku dalam bahasa yang bersangkutan. Hal ini dikarenakan, variasi bahasa itu terjadi sebagai akibat dari adanya keragaman sosial dan keragaman fungsi bahasa.

Ø  Penyebab Adanya Variasi Bahasa
§  Interferensi
            Chaer (1994:66) memberikan batasan bahwa interferensi adalah terbawa masuknya unsur bahasa lain ke dalam bahasa yang sedang digunakan,sehingga tampak adanya penyimpangan kaidah dari bahasa yang digunakan itu. Bahasa daerah menjadi proporsi utama dalam komunikasi resmi, sehingga rasa cinta terhadap bahasa nasional terkalahkan oleh bahasa daerah.
            Alwi, dkk. (2003:9) menyatakan bahwa banyaknya unsur pungutan dari bahasa Jawa, misalnya pemerkayaan bahasa Indonesia, tetapi masuknya unsur pungutan bahsa Inggris oleh sebagian orang dianggap pencemaran keaslian dan kemurnian bahasa kita. Hal tersebut yang menjadi sebab adanya interferensi. Selain bahasa daerah, bahasa asing (Inggris) bagi sebagian kecil orang Indonesia ditempatkan di atas bahasa Indonesia. Penggunaan bahasa inggris di ruang umum telah menjadi kebiasaan yang tidak terelakkan lagi. Hal tersebut mengakibatkan lunturnya bahasa dan budaya Indonesia yang secara perlahan tetapi pasti telah menjadi bahasa primadona. Misalnya masyarakat lebih cenderung menggunakan kata “pull” untuk “dorong” dan “push” untuk “tarik”, serta “welcome” untuk “selamat datang”.

§  Integrasi
            Selain Interferensi, integrasi juga dianggap sebagai pencemar terhadap bahasa Indonesia. Chaer (1994:67), menyatakan bahwa integrasi adalah unsur-unsur dari bahasa lain yang terbawa masuk dan sudah dianggap, diperlukan dan di pakai sebagai bagian dari bahasa yang menerima atau yang memasukinya. Proses integrasi ini tentunya memerlukan waktu yang cukup lama, sebab unsur yang berintegrasi itu telah di sesuaikan, baik lafalnya, ejaannya, maupun tata bentuknya. Contoh kata yang berintegrasi seperti montir, sopir, dongkrak.

§  Alih Kode dan Campur Kode
            Chaer (1994:67) menyatakan bahwa alih kode adalah beralihnya suatu kode (entah bahasa atau ragam bahasa tertentu) ke dalam kode yang lain (bahasa lain). Campur kode adalah dua kode atau lebih di gunakan bersama tanpa alasan, dan biasanya terjadi dalam situasi santai (Chaer, 1994:69). Diantara dua gejala bahasa itu, baik alih kode maupun campur kode gejala yang sering merusak bahasa Indonesia adalah campur kode. Biasanya dalam berbicara dalam bahasa Indonesia di campurkan dengan unsur-unsur bahasa daerah, begitu juga sebaliknya. Dalam kalangan orang terpelajar sering kali bahasa Indonesia di campur dengan unsur-unsur bahasa Inggris.

§  Bahasa Gaul
            Bahasa gaul merupakan salah satu cabang dari bahasa Indonesia sebagai bahasa untuk pergaulan. Istilah ini mulai muncul pada akhir tahun 1980-an. Pada saat itu bahasa gaul dikenal sebagai bahasanya para anak jalanan. Penggunaan bahasa gaul menjadi lebih dikenal khalayak ramai setelah Debby Sahertian mengumpulkan kosa kata yang digunakan dalam komunitas tersebut dan menerbitkan kamus yang bernama kamus bahasa gaul pada tahun 1999. Contoh penggunaan bahasa gaul adalah seperti : Ayah (Bokap), Ibu (Nyokap), Saya (Gue), dan lain-lain.

Ø  Macam Variasi Bahasa

v  Variasi dari Segi Penutur
1)      Idiolek
Idiolek adalah varasi bahasa yang bersifat perseorangan.  Setiap orang memiliki variasi bahasanya atau idioleknya masing – masing yang berkenaan dengan warna suara, pilihan kata, gaya bahasa, susunan kalimat dan sebagainya.  Bila ada 1000 orang penutur maka akan ada 1000 idiolek dengan cirinya masing- masing.
2)      Dialek
Dialek adalah variasi bahasa dari sekelompok penutur yang jumlahnya relative yang berada pada satu tempat, area ,atau wilayah tinggal penutur.  Para penutur dalam satu dialek, meskipun mereka mempunyai idioleknya masing – masing, memiliki kesamaan cirri yang menandai bahwa mereka berada pada satu dialek yang berbeda engna kelompok penutur lain.  Misalnya bahasa Jawa dialek Banyumas berbeda dengan dialek Surabaya, Semarang dan lain sebagainya.
3)      Kronolek
Kronolek adalah variasi bahasa yang digunakan oleh kelompok social pada masa tertentu.  Misalnya, variasi bahasa Indonesia pada masa tahun tiga puluhan, variasi bahasa pada masa tahun lima puluhan, dan variasi bahasa yang digunakan pada masa kini.  Variasi pada ketiga masa itu tentu saja berbeda, baik dari segi lafal, ejaan, morfologi, maupun sintaksis.
4)      Sosiolek
Sosiolek adalah variasi bahasa yang berkenaan dengan status, golongan dan kelas social penuturnya.  Dalam sosiolinguisik, variasi ini paling banyak dibicarakan dan menyita waktu karena menyangkut masalah pribadi penuturnya,  seperti usia, pendidikan, seks, pekerjaan, tingkat kebangsawanan, keadaan social ekonomi, dan sebagainya.  Dalam hal usia kita bias melihat perbedaan variasi yang digunakan oleh anak-anak, remaja, orang dewasa, dan orang tua.  Dari tingkat pendidikan penutur kita juga bisa melihat variasi bahasa orang yang berpendidikan dan tidak berpedidikan.  Tuturan para guru, para buruh, para petani, para mubalig dan para pengusaha merupakan wujud adanya variasi bahasa pekerjaan.  Dalam masyarakat tutur yang masih memegang tingkat kebangsawanan dapat pula kita lihat adanya variasi tingkat kebangsawanan. 
Sehubungan dengan variasi bahasa yang berakaitan dengan, tingkat, golongan, status, kelas social para penuturnya biasanya dikemukakan variasi bahasa yang disebut akrolek, basilek, vulgar, slang, kolokial, jargon, argon, dan ken.
o   Akrolek
Akrolek adalah variasi social, yang dianggap lebih penting atau bergengsi dari pada variasi social yang lain.  Sebagai contoh adalah bahasa bagongan, yaitu variasi bahasa Jawa yang khusus digunakan oleh para bangsawan kraton.
o   Basilek
Basilek adalah variasi social yang dianggap kurang bergengsi atau dipandang rendah.  Misalnya bahasa Inggris kaum cowboy dan kuli tambang. Begitu juga dalam bahasa Jawa “krama ndeso”.
o   Vulgar
Yang dimaksud vulgar adalah variasi social yang ciri- cirinya tampak pemakaian bahasa oleh mereka yang kurang terpelajar, atau dari kalangan tidak berpendidikan.
o   Slang
Yang dimaksud dengan slang adalah variasi social yang bersifat khusus dan rahasia. Variasi ini digunakan oleh kalangan tertentu yang sangat terbatas dan tidak boleh diketahui oleh kalangna di luar kelompk tersebut.  Oleh karena itu kosakata yang digunakan selalu berubah – ubah. Slang memang lebih merupakan bidang kosakata daripada bidang fonologi atau gramatika.  Karena bersifat kelompok dan rahasia, maka timbul kesan bahwa slang ini adalah bahasa rahasianya orang jahat dan pencoleng, padahal sebenarnya tidak demikian. 
o   Kolokial
Kolokial adalah variasi social yang diguanakan dalam percakapan sehari –hari. Kata kolokial barasal dari colloquium (percakapan, konversasi).  Jadi kolokial berarti bahasa percakapan.   Bukan bahasa tulis.  Tidak benar jika kolokial disebut bahasa kampungan sebab yang penting adalah konteks dalam pemakaiannya.
o   Jargon
Yang dimaksud jargon adalah variasi social yang digunakan secara terbatas oleh kelompok – kelompok social tertentu.  Ungkapan – ungkapan yang digunakan tidak mudah dipahami oleh masyarakat umum tetapi tidak bersiat rahasia. Misalnya dalam kelompok tukang batu ada istilah dieksos, disiku, dan ditimbang.

o   Argot
Yang dimaksud dengna argot adalah variasi social yang digunakan secara terbatas pada profesi – profesi tertentu dan bersifat rahasia. Letak kekhususan ada pada kosakata. Umpamanya dalam dunia kejahatan (pencuri, pencopet) diguakan istilah barang dalam arti mangsa, kacamata dalam arti polisi.
o   Ken
Yang dimaksud ken adalah variasi social tertentu yang bernada memelas, merengek – rengek, penuh dengan kepura – puraan.  Biasanya digunakan oleh para pengemis.

v  Variasi dari Segi Pemakaian
Variasi bahasa berdasarkan segi pemakaiannya disebut fungsiolek, ragam atau register (Nabanan,1984). Variasi ini dibicarakan berdasarkan bidang penggunaanya, gaya, atau tingkatan keformalan, dan sarana penggunaan. Variasi bahasa bidang pemakaain ini adalah menyangkut bahasa itu digunakan untuk keperluan apa, bidang apa, misalnya, sastra, jurnalistik, militer, pertanian, pelayaran, perekeonomian, perdagangan, pendidikan, dan kegiatan keilmuan.  Variasi bahasa sastra menekankan estetis, variasi bahasa jurnalistik bersifat sederhana, ringkas, padat, dan komunikatif. Variasi bahasa militer bersifat ringkas dan tegas. Variasi bahasa ilmiah dikenal dengan cirinya yang lugas, tegas, jelas, dan bebas dari keambiguan serta segala macam metafora dan idiom. Variasi bahasa berdasarkan fungsi ini lazim disebut register.

v  Variasi dari Segi Keformalan
Berdasarkan tingat keformalannya, Martin Joos (1967) membagi variasi bahasa atas lima macam.
·         Ragam Beku
Ragam beku adalah variasi bahasa yang paling formal yang digunakan dalam situasi-situasi khidmat, upacara resmi, upacara kenegaraan, pengmbilan sumpah, kitab undang-undang, akte notaries, dan surat-surat keputusan. 
·         Ragam Resmi
Ragam resmi atau formal adalah variasi bahasa yang digunakan dalam pidato kenegaraan, rapat dinas, surat – menyurat dinas, ceramah keagamaan, buku-buku pelajaran dan sebagainya. 
·         Ragam Usaha atau Ragam Konsultatif
Ragam usaha adalah variasi bahasa yang lazim digunakan dalam pembicaraan biasa di sekolah, dan rapat – rapat  atau  pembicaraan yang berorientasi pada hasil atau produksi.  Wujud ini berada diantara ragam formal dan informal.
·         Ragam Santai atau Ragam Kasual
Ragam santai adalah variasi  bahasa yang digunakan dalam situasi santai untuk berbincang – bincang sama keluarga, teman pada waktu tidak resmi (olah raga, rekreasi, istirahat,dll).
·         Ragam Akrab atau Ragam Intim
Ragam akrab adalah variasi bahasa yang biasa digunakan oleh para penutur yang hubunganya sudah akrab seperti anggota keluarga, atau antar teman yang sudah karib.  Ragam ini ditandai Dengan penggunaan bahasa yang tidak lengkap, pendek-pendek, dan dengan atiulasi yang sering tidak jelas. 
Perthatikan contoh berikut:
a.       Saudara boleh mengambil buku-buku yang saudara suka.
b.      Ambillah yang kau sukai.
c.       Kalau mau ambil aja.
Dari ketiga contoh diatas kalimat (a) lebih sopan dari kalimat (b) kalimat (b) lebih sopan dari kalimat (c).  Kalimat  (c) adalah yang termasuk ragam akrab.
Dalam penggunaan kita tidak mungkin menggunakan salah satu ragam saja.  Semua tergantung dengan situasi dan kondisi.

v  Variasi dari Segi Sarana
Variasi bahasa dapat pula dilihat dari segi sarana atau jalur yang digunakan.  Dalam hal ini dapat disebut ragam lisan dan ragam tulisan atau juga ragam dalam berbahasa dengan menggunakaan sarana atau alat tertentu misalnya dalam bertelephon dan bertelegraph. Adanya ragam bahasa lisan dan bahasa tilis didasarkan pada kenyataan bahwa pada bahasa lisan dan bahasa tulis memiliki wujud struktur yang tidak sama. Adanya ketidaksamaan wujud strukur ini adalah karena dalam berbahasa lisan kita dibantu oleh unsure – unsure nonsegmental atau unsur nonlinguistic yang berupa nada suara, gerak-gerik tangan, gelengna kepala dan gerakan fisik yang lain. Sedangkan pada bahasa tulis itu semua tidak ada. Lalu sebagai gantinya harus dieksplesitkan secara verbal.  

RAGAM BAHASA



Ragam bahasa berdasarkan media/sarana ada 2, yaitu : 1. Ragam Bahasa Lisan Ragam bahasa lisan adalah bahan yang dihasilkan alat ucap dengan fonem sebagai unsur dasar. Dalam ragam lisan kita berurusan dengan tata bahasa, kosakata dan lafal. Dalam ragam bahasa lisan ini, pembicara dapat memanfaatkan tinggi rendah suara atau tekanan, air muka, gerak tangan atau isyarat untuk mengungkapkan ide. Ciri-ciri ragam bahasa lisan : a. Memerlukan kehadiran orang lain b. Unsur gramatikal tidak dinyatakan secara lengkap c. Terikat ruang dan waktu d. Dipengaruhi oleh tinggi rendahnya suara Kelebihan ragam bahasa lisan : a. Dapat disesuaikan dengan situasi b. Faktor efisiensi c. Faktor kejelasan karena pembicara menambahkan unsure lain berupa tekan dan gerak anggota badan agah pendengar mengerti apa yang dikatakan seperti situasi, mimik dan gerak-gerak pembicara. d. Faktor kecepatan, pembicara segera melihat reaksi pendengar terhadap apa yang dibicarakannya. e. Lebih bebas bentuknya karena faktor situasi yang memperjelas pengertian bahasa yang dituturkan oleh penutur. f. Penggunaan bahasa lisan bisa berdasarkan pengetahuan dan penafsiran dari informasi audit, visual dan kognitif. Kelemahan ragam bahasa lisan : a. Bahasa lisan berisi beberapa kalimat yang tidak lengkap, bahkan terdapat frase- frase sederhana. b. Penutur sering mengulangi beberapa kalimat. c. Tidak semua orang bisa melakukan bahasa lisan. d. Aturan-aturan bahasa yang dilakukan tidak formal. 2. Ragam Bahasa Tulis Ragam bahasa tulis adalah bahasa yang dihasilkan dengan memanfaatkan tulisan dengan huruf sebagai unsur dasarnya. Dalam ragam tulis, kita berurusan dengan tata cara penulisan dan kosakata. Dengan kata lain dengan ragam bahasa tulis, kita tuntut adanya kelengkapan unsur kata seperti bentuk kata ataupun susunan kalimat, ketepatan pilihan kata, kebenaran penggunaan ejaan dan penggunaan tanda baca dalam mengungkapkan ide. Ciri-ciri ragam bahasa tulis : a. Tidak memerlukan kehaduran orang lain b. Unsur gramatikal dinyatakan secara lengkap. c. Tidak terikat ruang dan waktu d. Dipengaruhi oleh tanda baca atau ejaan. Kelebihan ragam bahasa tulis : a. Informasi yang disajikan bisa dipilih untuk dikemas sebagai media atau materi yang menarik dan menyenangkan. b. Umumnya memiliki kedekatan budaya dengan kehidupan masyarakat. c. Sebagai sarana memperkaya kosakata. d. Dapat digunakan untuk menyampaikan maksud, membeberkan informasi atau mengungkap unsur-unsur emosi sehingga mampu mencanggihkan wawasan pembaca. Kelemahan ragam bahasa tulis : a. Alat atau sarana yang memperjelas pengertian seperti bahasa lisan itu tidak ada akibatnya bahasa tulisan harus disusun lebih sempurna. b. Tidak mampu menyajikan berita secara lugas, jernih dan jujur, jika harus mengikuti kaidah-kaidah bahasa yang dianggap cenderung miskin daya pikat dan nilai jual. c. Yang tidak ada dalam bahasa tulisan tidak dapat diperjelas/ditolong, oleh karena itu dalam bahasa tulisan diperlukan keseksamaan yang lebih besar. Ragam bahasa fungsionalm adalah ragam bahasa yang dikaitkan dengan profesi, lembaga, lingkungan kerja atau kegiatan tertentu lainnya. Ragam fungsional juga dikaitkan dengan keresmian keadaan penggunaannya. Ada 3 ragam bahasa fungsional, yaitu : 1. Ragam Bahasa Bisnis Ragam bahas bisnis adalah ragam bahasa yang digunakan dalam berbisnis, yang biasa digunakan oleh para pebisnis dalam menjalankan bisnisnya. Ciri-ciri ragam bahasa bisnis : a. Menggunakan bahasa yang komunikatif b. Bahasanya cenderung resmi c. Terikat ruang dan waktu d. Membutuhkan adanyaorang lain 2. Ragam Bahasa Hukum Ragam bahasa hukum adalah bahasa Indonesia yang corak penggunaan bahasanya khas dalam dunia hokum, mengingat fungsinya mempunyai karakteristik tersendiri, oleh karena itu bahasa hokum Indonesia haruslah memenuhi syarat- syarat dan kaidah-kaidah bahasa Indonesia. Ciri-ciri ragam bahasa hukum : a. Mempunyai gaya bahasa yang khusus b. Lugas dan eksak karena menghindari kesamaran dan ketaksaan c. Objektif dan menekan prasangka pribadi d. Memberikan definisi yang cermat tentang nama, sifat dan kategori yang diselidiki untuk menghindari kesimpangsiuran e. Tidak beremosi dan menjauhi tafsiran bersensasi 3. Ragam Bahasa Sastra Ragam bahasa sastra adalah ragam bahasa yang banyak menggunakan kalimat tidak efektif. Penggambaran yang sejelas-jelasnya melalui rangkaian kata bermakna konotasi sering dipakai dalam ragam bahasa sastra. Ciri-ciri ragam bahasa sastra : a. Menggunakan kalimat yang tidak efektif b. Menggunakan kata-kata yang tidak baku c. Adanya rangkaian kata yang bermakna konotasi.
Berturut-turut sesuai derajat keformalannya, ragam tersebut dibagi sebagai berikut. 1. Ragam beku (frozen); digunakan pada situasi hikmat dan sangat sedikit memungkinkan keleluasaan seperti pada kitab suci, putusan pengadilan, dan upacara pernikahan. 2. Ragam resmi (formal); digunakan dalam komunikasi resmi seperti pada pidato, rapat resmi, dan jurnal ilmiah. 3. Ragam konsultatif (consultative); digunakan dalam pembicaraan yang terpusat pada transaksi atau pertukaran informasi seperti dalam percakapan di sekolah dan di pasar. 4. Ragam santai (casual); digunakan dalam suasana tidak resmi dan dapat digunakan oleh orang yang belum tentu saling kenal dengan akrab. 5. Ragam akrab (intimate). digunakan di antara orang yang memiliki hubungan yang sangat akrab dan intim. Contoh Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar : Misalkan dalam pertanyaan sehari-hari dengan menggunakan bahasa yang baku Contoh : * Ketika dalam dialog antara seorang Guru dengan seorang murid Pak guru : Rino apakah kamu sudah mengerjakan PR? Rino : sudah saya kerjakan pak. Pak guru : baiklah kalau begitu, segera dikumpulkan. Rino : Terima kasih Pak , akan segera saya kumpulkan. Bahasa yang baik dan benar itu memiliki empat fungsi : (1) fungsi pemersatu kebhinnekaan rumpun dalam bahasa dengan mengatasi batas- batas kedaerahan; (2) fungsi penanda kepribadian yang menyatakan identitas bangsa dalam pergaulan dengan bangsa lain; (3) fungsi pembawa kewibawaan karena berpendidikan dan yang terpelajar; dan (4) fungsi sebagai kerangka acuan tentang tepat tidaknya dan betul tidaknya pemakaian bahasa. Keempat fungsi bahasa yang baik dan benar itu bertalian erat dengan tiga macam batin penutur bahasa sebagai berikut : (1) fungsinya sebagai pemersatu dan sebagai penanda kepribadian bangsa membangkitkan kesetiaan orang terhadap bahasa itu; (2) fungsinya pembawa kewibawaan berkaitan dengan sikap kebangsaan orang karena mampu beragam bahasa itu; dan (3) fungsi sebagai kerangka acuan berhubungan dengan kesadaran orang akan adanya aturan yang baku layak diatuhi agar ia jangan terkena sanksi sosial. Berdasarkan paparan di atas maka dapat disimpulkan, berbahasa Indonesia dengan baik dan benar adalah menggunakan bahasa Indonesia yang memenuhi norma baik dan benar bahasa Indonesia. Norma yang dimaksud adalah “ketentuan” bahasa Indonesia, misalnya tata bahasa, ejaan, kalimat, dsb.

hubungan bahasa dan faktor sosial



Hubungan bahasa dan faktor sosial Hubungan antara bahasa dengan konteks sosial tersebut dipelajari dalam bidang Sosiolinguistik, sebagaimana yang dikemukakan oleh Trudgill bahwa “Sosiolinguistik adalah bagian linguistik yang berkaitan dengan bahasa, fenomena bahasa dan budaya. Bidang ini juga mengkaji fenomena masyarakat dan berkaitan dengan bidang sains sosial seperti Antropologi atau sistem kerabat (Antropologi) bisa juga melibatkan geografi dan sosiologi serta psychologi sosial”. Manakala, Fishman menyatakan bahwa Sosiolinguistik memiliki komponen utama yaitu ciri-ciri bahasa dan fungsi bahasa. Fungsi bahasa dimaksud adalah fungsi sosial (regulatory) yaitu untuk membentuk arahan dan fungsi interpersonal yaitu menjaga hubungan baik serta fungsi imajinatif yaitu untuk menerangkan alam fantasi serta fungsi emosi seperti untuk mengungkapkan suasana hati seperti marah, sedih, gembira dan apresiasi. Perkembangan bahasa yang sejalan dengan perkembangan kehidupan manusia di abad modern menunjukkan fenomena yang berubah-ubah antara lain dengan penggunaan bahasa sebagai alat pergaulan tertentu yang dikenal dengan variasi bahasa seperti jargon dan argot.
1. Menjelaskan hubungan bahasa dengan kelas sosial. Kelas sosial (sosial class) mengacu pada golongan masyarakat yang mempunyai kesamaan tertentu dalam bidang kemasyarakatan seperti ekonomi, pekerjaan, pendidikan, kedudukan, kasta, dan sebagainya. Ada dua macam komunikasi bahasa, yaitu komunikasi searah dan komunikasi dua arah. Dalam komunikasi searah, si pengirim tetap sebagai pengirim, dan si penerima tetap sebagai penerima. Misalnya, dealam komunikasi yang bersifat memberitahukan, khotbah di mesjid atau gereja, ceramah yang tidak diikuti Tanya jawab. Dalam komunikasi dua arah, secara berganti-ganti si pengirim bisa menjadi penerima, dan penerima menjadi pangirim. Komunikasi dua arah ini terjadi dalam rapat, perundingan, diskusi dan sebagainya. Sebagai alat komunikasi, bahasa itu terdiri dari dua aspek yaitu:
a. Aspek linguistic Aspek nonlinguistik atau paralinguistic Kedua aspek itu bekerjasama dalam membangun komunikasi bahasa. Aspek linguistik mencakup tataran fonologis, morfologis, dan sintaksis. Ketiga tataran ini mendukung terbentuknya yang akan disampaikan, yaitu semantik (yang di dalamnya terdapat makna, gagasan, idea tau konsep). Aspek paralinguistik mencakup: Kualitas ujaran, yaitu pola ujaran seseorang seperti falsetto (suara tinggi), staccato (suara terputus-putus), dan sebagainya. Unsur supra segmental, yaitu tekanan (stress), nada (pitch), dan intonasi. Jarak dan gerak-gerik tubuh, seperti gerakan tangan, anggukan kepala, dan sebagainya. vRabaan, yakni yang berkenaan dengan indera perasa (pada kulit). Aspek linguistic dan paralinguistik berfungsi sebagai alat komunikasi, bersama-sama dengan konteks situasi membentuk atau membangun situasi tertentu dalam proses komunikasi.
b. Pengaruh bahasa dalam Ragam kelas Sosial Perkembangan bahasa yang searah dengan perkembangan kehidupan manusia di abad modern menunjukkan fenomena yang berubah-ubah antara lain dengan penggunaan bahasa sebagai alat pergaulan tertentu yang dikenal dengan variasi bahasa.
2. Menjelaskan hubungan bahasa dengan jenis kelamin. Di dalam sosiolinguistik, bahasa dan jenis kelamin memiliki hubungan yang sangat erat. Secara khusus, pertanyaan yang telah menjamur sebagai bahan diskusi adalah, “mengapa cara berbicara wanita berbeda dengan laki-laki?” Dalam kata lain, kita tertuju pada beberapa factor yang menyebabkan wanita menggunakan bahasa standar lebih sering dibanding pria.
Dalam bidang morfologi, Lakoff menyatakan bahwa wanita sering menggunakan kata-kata untuk warna, seperti mauve, beige, aquamarine, dan lavender yang mana kata-kata ini jarang digunakan oleh pria. Selain itu, wanita juga sering menggunakan kata sifat, seperti adorable, charming, divine, lovely, dan sweet. Dilihat dari diksi, wanita memiliki kosa kata sendiri untuk menunjukkan efek tertentu terhadap mereka. Kata dan ungkapan seperti so good, adorable, darling, dan fantastic.
3. Menjelaskan hubungan bahasa dengan usia. Dalam kehidupan sehari-hari, penggunaan bahasa tidak semata-mata tidak didasarkan atas prinsip well-formed dalam sintaksis, melainkan atas dasar kepentingan agar komunikasi tetap dapat berjalan. Lebih tepatnya, dengan mengikuti kecenderungan dalam etnometologi, bahasa digunakan oleh masyarakat tutur sebagai cara para peserta interaksi saling memahami apa yang mereka ujarkan.