Hubungan bahasa dan faktor sosial
Hubungan antara bahasa dengan konteks sosial tersebut dipelajari dalam bidang
Sosiolinguistik, sebagaimana yang dikemukakan oleh Trudgill bahwa
“Sosiolinguistik adalah bagian linguistik yang berkaitan dengan bahasa,
fenomena bahasa dan budaya. Bidang ini juga mengkaji fenomena masyarakat dan
berkaitan dengan bidang sains sosial seperti Antropologi atau sistem kerabat
(Antropologi) bisa juga melibatkan geografi dan sosiologi serta psychologi
sosial”. Manakala, Fishman menyatakan bahwa Sosiolinguistik memiliki komponen
utama yaitu ciri-ciri bahasa dan fungsi bahasa. Fungsi bahasa dimaksud adalah
fungsi sosial (regulatory) yaitu untuk membentuk arahan dan fungsi
interpersonal yaitu menjaga hubungan baik serta fungsi imajinatif yaitu untuk
menerangkan alam fantasi serta fungsi emosi seperti untuk mengungkapkan suasana
hati seperti marah, sedih, gembira dan apresiasi. Perkembangan bahasa yang
sejalan dengan perkembangan kehidupan manusia di abad modern menunjukkan
fenomena yang berubah-ubah antara lain dengan penggunaan bahasa sebagai alat
pergaulan tertentu yang dikenal dengan variasi bahasa seperti jargon dan argot.
1. Menjelaskan hubungan bahasa dengan
kelas sosial. Kelas sosial (sosial class) mengacu pada golongan masyarakat yang
mempunyai kesamaan tertentu dalam bidang kemasyarakatan seperti ekonomi,
pekerjaan, pendidikan, kedudukan, kasta, dan sebagainya. Ada dua macam
komunikasi bahasa, yaitu komunikasi searah dan komunikasi dua arah. Dalam
komunikasi searah, si pengirim tetap sebagai pengirim, dan si penerima tetap
sebagai penerima. Misalnya, dealam komunikasi yang bersifat memberitahukan,
khotbah di mesjid atau gereja, ceramah yang tidak diikuti Tanya jawab. Dalam
komunikasi dua arah, secara berganti-ganti si pengirim bisa menjadi penerima,
dan penerima menjadi pangirim. Komunikasi dua arah ini terjadi dalam rapat,
perundingan, diskusi dan sebagainya. Sebagai alat komunikasi, bahasa itu terdiri
dari dua aspek yaitu:
a. Aspek linguistic Aspek
nonlinguistik atau paralinguistic Kedua aspek itu bekerjasama dalam membangun
komunikasi bahasa. Aspek linguistik mencakup tataran fonologis, morfologis, dan
sintaksis. Ketiga tataran ini mendukung terbentuknya yang akan disampaikan,
yaitu semantik (yang di dalamnya terdapat makna, gagasan, idea tau konsep).
Aspek paralinguistik mencakup: Kualitas ujaran, yaitu pola ujaran seseorang
seperti falsetto (suara tinggi), staccato (suara terputus-putus), dan sebagainya.
Unsur supra segmental, yaitu tekanan (stress), nada (pitch), dan intonasi.
Jarak dan gerak-gerik tubuh, seperti gerakan tangan, anggukan kepala, dan
sebagainya. vRabaan, yakni yang berkenaan dengan
indera perasa (pada kulit). Aspek linguistic dan paralinguistik berfungsi
sebagai alat komunikasi, bersama-sama dengan konteks situasi membentuk atau
membangun situasi tertentu dalam proses komunikasi.
b. Pengaruh bahasa dalam Ragam kelas
Sosial Perkembangan bahasa yang searah dengan perkembangan kehidupan manusia di
abad modern menunjukkan fenomena yang berubah-ubah antara lain dengan
penggunaan bahasa sebagai alat pergaulan tertentu yang dikenal dengan variasi
bahasa.
2. Menjelaskan hubungan bahasa
dengan jenis kelamin. Di dalam sosiolinguistik, bahasa dan jenis kelamin
memiliki hubungan yang sangat erat. Secara khusus, pertanyaan yang telah
menjamur sebagai bahan diskusi adalah, “mengapa cara berbicara wanita berbeda
dengan laki-laki?” Dalam kata lain, kita tertuju pada beberapa factor yang
menyebabkan wanita menggunakan bahasa standar lebih sering dibanding pria.
Dalam bidang morfologi, Lakoff
menyatakan bahwa wanita sering menggunakan kata-kata untuk warna, seperti
mauve, beige, aquamarine, dan lavender yang mana kata-kata ini jarang digunakan
oleh pria. Selain itu, wanita juga sering menggunakan kata sifat, seperti
adorable, charming, divine, lovely, dan sweet. Dilihat dari diksi, wanita
memiliki kosa kata sendiri untuk menunjukkan efek tertentu terhadap mereka.
Kata dan ungkapan seperti so good, adorable, darling, dan fantastic.
3. Menjelaskan hubungan bahasa dengan usia.
Dalam kehidupan sehari-hari, penggunaan bahasa tidak semata-mata tidak
didasarkan atas prinsip well-formed dalam sintaksis, melainkan atas dasar
kepentingan agar komunikasi tetap dapat berjalan. Lebih tepatnya, dengan
mengikuti kecenderungan dalam etnometologi, bahasa digunakan oleh masyarakat
tutur sebagai cara para peserta interaksi saling memahami apa yang mereka
ujarkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar