Penerapan
sosiolinguistik yang tak boleh diabaikan adalah aplikasinya dalam pendidikan.
Bagaimana interaksi kebahasaan dalam proses belajar mengajar sangat penting diketahui.
Persoalannya ialah apakah pengajaran bahsa dapat menyebabkan anak didik
menggunakan suatu bahasa menurut kaidah-kaidah dan tidak mempersoalkan
bagaimana penerapan kaidah dalam penggunaan bahasa sehari-hari.
Penerapan
sosilinguistik dalam pengajaran bahasa bukan berarti kita mengajarkan
sosiolinguistik kepada murid-murid, tetapi kita (guru bahasa) harus membentengi
diri dengan pengetahuan sosiolinguistik. Pengetahuan sosiolinguistik diperlukan
agar materi yang kita berikan kepada anak didik dapat mereka cerna dan dapat
dipergunakannya dalam kehidupan sehari-hari.(mansoer pateda, 1987:98)
Dalam sosiolinguistik
mengajarkan bagaimana penggunaan bahasa itu secara aktual dalam komunikasi
khususnya dalam pengajaran bahasa. Seperti yang diungkapkan oleh Fishman (1967:
15; Chaer dan Agustina, 2010:48) bahwa sosiolinguistik menjelaskan bagaimana
menggunakan bahasa dalam aspek atau segi sosial tertentu dengan memperhatikan,
“ who speak, what language, to whom, when, and to what end”.
Dalam
pengajaran bahasa tentu harus mampu mengaplikasikan bahasa sebagai sarana
penyampaian konten, melakukan proses sosial dan berinteraksi dalam
pembelajaran. Maka rumusan Fishman tersebut dirasa penting sebagai pedoman
dalam berinteraksi, yakni mengetahui
siapa yang sedang berbicara, siswa, atau sesama guru atau kepala sekolah,
bahasa apa yang harus digunakan, untuk siapa bahasa tersebut digunakan
karena bahasa yang digunakan ketika berkomunikasi dengan siswa tentu akan
berbeda ketika berkomunikasi dengan kepala sekolah atau sesama guru. Ada pula
pertimbangan lalu kapankah komunikasi berlangsung dalam situasi formal atau
nonformal, sepeti ketika guru melaksanakan diskusi di dalam kelas, tentu akan
berbeda ketika sedangan bercengkrama di ruang guru yang dilakukannya oleh
sesama guru, dan tujuan dari interaksi yang dilakukan tersebut apa? misalnya
tujuan untk memotivasi siswa tentu akan berbeda dengan bahasa yang digunakan
ketika menegur siswa yang melakukan kesalahan, maka disitulah aplikasi sosiolinguistik dalam interaksi
pengajaran bahasa sangat penting untuk diterapkan.
Aplikasi
berikutnya penggunaan pronomina persona kaitannya dengan variasi bahasa yang
digunakan dalam buku Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia (2003: 249) yang
menjelaskan pronomina persona sebagai berikut.
|
Persona
|
Makna
|
|||
|
Tunggal
|
Jamak
|
|||
|
Netral
|
Eksklusif
|
Inklusif
|
||
|
Pertama
|
Saya, aku, aku, ku-,-ku
|
|
Kami
|
Kita
|
|
Kedua
|
Engkau, kamu, anda, dikau, kau,
-mu
|
Kalian, kamu, sekalian, anda,
sekalian
|
|
|
|
Ketiga
|
Ia, dia, beliau, -nya
|
Mereka
|
|
|
Sosiolinguistik menjelaskan penggunaan pronomina tersebut
dengan mengklasifikasikan variasi bahasa berdasarkan umur, pendidikan, tingkat keformalan, topik dan jalur pembicaraan dengan klasifikasi
tersebut pengguna bahasa akan dengan mudah menggunakan masing-masing pronomina
persona.
Kontribusi sosiolinguistik dalam pembelajaran bahasa dapat
dilihat melalui aplikasi linguistik, yakni bagaimana sumbangan sosiolinguistik
dalam menentukan bahan pembelajaran,
silabus dan pelaksanaan
pengajaran bahasa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar